Geisha bukanlah Pelacur

November 13, 2009 pukul 7:56 am | Ditulis dalam berita | Tinggalkan komentar

[Image: geisha1-gion.jpg]

Geisha (bahasa Jepang:芸者 “seniman”) adalah seniman-penghibur (entertainer) tradisional Jepang. Kata geiko digunakan di Kyoto untuk mengacu kepada individu tersebut. Geisha sangat umum pada abad ke-18 dan abad ke-19, dan masih ada sampai sekarang ini, walaupun jumlahnya tidak banyak.

“Geisha,” yang dilafalkan dalam bahasa Inggris:/ˈgeɪ ʃa/ (“gei-” – “may”). Di Kansai, istilah “geiko” (芸妓) dan geisha pemula “maiko” (舞妓) yang digunakan sejak Restorasi Meiji. Istilah “maiko” hanya digunakan di distrik Kyoto. Pengucapan “gadis geisha” umum digunakan pada masa pendudukan Amerika Serikat di Jepang, mengandung konotasi prostitusi karena pada masa tersebut memang banyak Hanamachi yang menyediakan ”layanan” tersebut , suatu daerah yang banyak terdapat Okiya (rumah Geisha) dan Ochaya ( rumah ”minum teh” ) dinamakan Hanamachi atau ”wilayah Geisha” yang banyak terdapat di Kyoto.

Geisha belajar banyak bentuk seni dalam hidup mereka, tidak hanya untuk menghibur pelanggan tetapi juga untuk kehidupan mereka. Rumah-rumah geisha (“Okiya”) membawa gadis-gadis yang kebanyakan berasal dari keluarga miskin dan kemudian melatih mereka meski tidak sedikit seorang Geisha membawa putrid mereka untuk di latih di Okiya yang sama sebagai penerus.

Mereka belajar tentang Seni berbusana ,Seni percakapan , seni musik ( shamisen, shakuhachi dan Taiko ), Seni Tari, Menata Bunga, belajar puisi, dan melaksanakan upacara minum teh, Kaligrafi, dan melayani tamu dalam jamuan makan dan minuman keras.

Tahapan pendidikan :

Shikomi

Adalah tahap pertama, pada tahap Shikomi anak gadis yang baru tiba di Okiya melakukan pekerjaan sebagai pembantu secara itensif, mereka juga punya kewajiban untuk menunggu kedatangan Geisha yang menjadi “senior/ pelatih” mereka bila sedang bertugas keluar sampai larut malam malah sampai pagi. Tahap ini pula mereka belajar tata bahasa, adat istiadat dan berbusana “karyukai” dan menari di sekolah Geisha yang ada di Hanamachi tersebut.

[Image: michelle-yeoh-memoirs-of-a-geisha.jpg]

Minarai

Tahap ini ditempuh setelah calon Geisha melewati pendidikan Tari yang di ajarkan pada tahapan Shikomi dan dinyatakan lulus.

Pada Tahap ini calon Geisha dibebaskan dari tugas pekerjaan rumah dan lebih focus pada praktek lapangan ( in job training kale ya ? )
[Image: newlayout_06.gif]

Seorang Minarai mulai diperbantukan untuk melayani tamu dalam acara jamuan makan di Ochaya dibawah pengawasan Geisha senior, juga mengasah ketrampilan mereka dalam menemani Tamu dalam percakapan
Tahapan ini juga mereka belajar ketrampilan tambahan yaitu menguasai berbagai jenis permainan ”game” .

Maiko

Tahap ini merupakan tahapan yang penting, disebut Maiko ( Sassy di Tokyo dan di Demure Kyoto ) atau biasa disebut Geisha pemula, mereka mulai melaksanakan pekerjaan mendampingi / membantu Geisha Senior dalam setiap tugas tidak hanya terbatas di Ochaya seperti hal nya Minarai
Hubungan dengan Geisha senior pun berubah menjadi hubungan layaknya kakak-beradik
[Image: geisha-girl2.jpg]
Pada tahap ini mereka semakin memantapkan keahlian mereka dalam menari, memainkan alat musik, seni percakapan dan melayani acara minum teh. Tambahan pelajaran mereka pada tahap ini adalah seni menulis kaligrafi dan berpuisi yang dijarkan oleh Geisha senior mereka.

Setelah melalui ketiga tahapan tersebut barulah mereka layak menyandang sebutan sebagai seorang Geisha.

Geisha bukanlah Pelacur

Banyak yang menyamakan dan salah sangka bahwa Geisha adalah Pelacur , Di Jepang sendiri pelacuran disebut Oiran yang muncul pada jaman Edo ( 1600 – 1868 ) mereka juga dituntut memiliki ketrapilan seperti halnya seorang Geisha, semakin tinggi keahlian mereka dibidang penguasaan seni dan juga kepandaian maka semakin tinggi pula kelas mereka, Oiran yang high level di sebut Tayu.

Ketika jaman Oiran berakhir muncullah masa Geisha, namun tak sedikit para Geisha yang terjerumus dalam Praktik prostitusi, padahal aturan di Jepang melarang Geisha melakukan hal tersebut, dan hanya mengijinkan Geisha sebagai Entertainer. Seorang Geisha mungkin Merayu, menggoda dan bercanda dalam melayani Clientnya tapi dilakukan dengan seni yang elegan tanpa melakukan hubungan badan. Dan para client pun tidak berharap banyak untuk ”naik ranjang” bersama seorang Geisha.

Geisha juga memeliki tradisi mizuage ( menjaga keperawanan ) yang hanya nanti diberikan kepada Danna ( seorang pelanggan yang sangat setia dan bersedia menjamin hidup seorang Geisha bila dia tidak menjalankan profesi sebagai Geisha lagi ) yang akan menikahi nya.

Dan sampai saat ini masih terdapat Geisha di jepang yaitu di Kyoto dan Tokyo walau jumlah mereka tidak lebih dari 2000 orang.

Satu hal yang menarik komputer adalah salah satu keahlian yang diajarkan keapad seorang Geisha modern.

Tinggalkan sebuah Komentar »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.
Entries dan komentar feeds.

%d blogger menyukai ini: